jeudi 1 juillet 2010

Everlasting XB!

Ini notes temen aku Ajeng Biantari. Dia pinter nulis looh! Sengaja aku post di blog ku, karna aku suka banget sama blog ini. Hem terlalu banyak kenangan bersama PROJECT-B. Let's check!!

XB itu…

Yang kelasnya ada di lantai 3, di kelas Agama Islam.

Yang berisik tapi seru dan kompak.

Yang pernah bikin guru ngambek sama kita.

Yang juara 2 APSI.

Yang juara 3 liga 14.

Yang wali kelasnya cantik, bu Listantri guru sosio.

Yang muridnya ada 40.

Daaaaaaaaaaan….. Ini dia anggota XB!

Oji : suka banget ngomong “cukup tau aja gw” atau “lu tipu-tipu gw ha?* atau dengan berbagai ceritanya tentang Ismi dan pengintaiannya sama Feny

Ibrahim : bermuka sendu nan datar hampir tanpa ekspresi. Dan kalo di kelas pasti duduk paling belakang padahal dia kecil imut lucu -_-

Ajeng : satu-satunya murid XB yang berulang tahun di bulan Juni

Alvin : diem diem suka sama BBF dan nyimpen gambar-gambar BBF loooh di HP-nya hihiw. Mantan ketua kelas XB

Maya : toa abis ga bisa diem sebentaaaaaaarrr aja

Dika : kayak cacing kepanasan dan ngomongnya ga bisa selow

Andreas : selalu nyari makanan saat jam istirahat atau pun ga. Calon pengacara kayaknya dan selalu membuat teman sebangkunya (Sardo) tertekan, muka sangar hati mawar

Annisa : cocok banget jadi guru karena ketegasannya, dan………serem kalo lagi marah ._.

Audy : anak party dork yang mengaku dirinya gaul, tapi……….kami meragukannya hahaha. Nabung poin sama bu Erah

Carlos : kurus tinggi persis lidi, selalu jadi korban bu Mita kalo lagi pelajaran MTK

Christa : fotonya di billboard depan BKN menjadi buah bibir anak XB. Dia juga senasib sama Carlos, tapi Christa lebih beruntung karena biasanya dia dibantuin Ibrahim kalo ditanyain sama guru jadi dia hampir selalu bisa menjawab pertanyaan yang cukup sulit. Pake BB Bold loooooh haha

David : anak ter-ga-jelas di XB, seneng banget mondar mandir sana sini, dan ngefans sama Halimah

Depe : jakangel yang suka menari. Kecengannya banyak, dia sedang menjelajah semua kelas X. Ngaku ngaku kembarannya Nadira -,-

Dyah : fans berat Justin Bieber dan Vierra

Eska : fans berat SO7 gara-gara tau gebetannya suka juga sama SO7, pen-jayus sejati, dan berjiwa lawas

Erika : lebay abis, kalo lagi pelajaran IPA jarang merhatiin guru karena dia berpendapat bahwa pelajaran IPA itu amat sangat tidak penting (calon anak IPS), suka banget ngecengin guru, sering melintirin rambutnya

Farhan : akhwat modis yang narsis abis (sadar kamera), suka curi curi pandang sama si kaka senior perfect, semua alat tulis dia di kasih nama biar ga ilang

Feny : cewek idaman oji, rambutnya bagusssssss

Gersom : si STsetia yang pinter ngasih argumen dan pemikirannya sangat cemerlang!

Halimah : primadona kelas karena punya banyak fans (katanya), pinter bahasa arab, cita citanya mau kuliah di Psikologi UI, amin!

Arum : hidupnya penuh drama, bisa nipu orang dengan aktingnya

Tyas : cerewet banget, dan rajin sisiran serta kacaan

Aqil : tergila-gila sama segala hal tentang komputer atau semacamnya lah dan selalu punya misi rahasia sama Halimah

Sardo : batak ramah, kasian duduknya sama Andreas, kabarnya dia sangat tertekan, sabar ya… haha

Jalu : ketua kelas XB yang baru baru ini menjadi botak karena seleksi untuk paskibraka. Dia suka sama Tyas loooh uhuyyy

Melisa : suka banget sama naruto, masih sayang sama mantan istrinya, Eska. Lebih suka dibilang ganteng daripada dibilang cantik. Jejeritan kalo dikelitikin sama dipeluk. Pinter biologi!

Irfan : si model ganteng yang kadang baik kadang jutek, dia itu Mr. Perfect

Akbar : digosipin suka sama Halimah. Kalo lo cewek, jangan coba coba deketin dia deh, karena…….semakin kau kejar semakin ku jauuuh~~ (re: hijab)

Yusa : murid tertinggi di XB atau mungkin di 14 juga? Sering sakit sakitan, mungkin karena ketinggian kali ya haha

Fosil : kurus, ketawanya nyeremin, moody-an, pindahan dari XC

Nadia : pendieeeeeeeeeeeeeeeeeeeemmmm banget dan jarang bergerak. Stuck on her place lah

Nadira : cantik, pinter, baik, cooooooooolll!

Rina : bangga banget jadi anak KJDK

Risyad : sobatnya Rina, gayanya sok cool. Kadang-kadang suka nyamber ikut ngobrol

Satrio : cowok cantik yang bandel tapi kadang pinter

Sekar : sangat tomboy, pinter main gitar, dan…….mau dibawa kemana hubungan kita~~

Syifa : cuek, ketawanya kayak ketawa ibu-ibu PKK lagi ngocok arisan

Tania : pernah ke Korea buat lomba choir, lucu imut, pipinya dia pengganti pipinya ka Linda, suka main sama anak cowok, sunda abessssss

Tipan : suka SO7 ketularan Eska, cempreng abis suaranya, calon pujangga

Ijul : temen gw dari TK sampe sekarang yang pinter abis, gatau nih dia makan apa. Suka banget nitip makanan ke anak anak kalo lagi mau ke kantin

That’s all XB 2009-2010. Semoga nanti saat kita udah naik kelas dan mencar-mencar, kita tetep kompak ya, AMIN!

Dan XB itu kelas terasik!

EVERLASTING XB :D

dimanche 27 juin 2010

Yel-Yel Diklat OSIS Angkatan 43

25 Juni 2010 tepatnya hari Jum'at. Aku dan Peserta Diklat OSIS angkatan 43 lainnya menampilkan yel-yel di lapangan 14 tercintaaa. ini dia yel-yel nya:

1. We are the champion
Kami peserta diklat osis
Angkatan empat puluh tiga
Kami diklat osis
Kami diklat osis
Ikatkan hati
Menjaga amanah, di osis.

2. Kopi dangdut
Kami diklat osis angkatan 43
Dengan sepenuh hati jayakan 14
Bersatu padu tempelkan semangat juang
Bersatu padu serentak maju
Ke arah masa depan
Amala bakti kami kepada sekolah
Kami berjuang tak akan menyerah
Menjalankan semua tugas kami di 14

3. Kemenangan hati
Tak pernah kusangka kami disini
Mengikuti diklat osis ini
Setiap langkah kami begitu berarti
Mengubahku juga hidupku
Tidak mudah tuk lewati masa diklat osis ini….
*kami osis angkatan 4puluh3
Kami tlah berjanji tuk bekerja sama
Walaupun ekskul kami berbeda
Tapi itu bukan masalah
Karena kami semua 1 angkatan

4. Cangkul
Ayo kawan kawan semua
Kita bersiap tuk ikut diklat
Pakai nametagmu ambil bukumu
Kita bergegas ke 14
Ruang agama sehabis dzuhur
Tuk ikut diklat tak jemu-jemu
*ayo kawan kita bergegas
Datanglah awal sebelum telat
Ayo kawan kita bergegas
Janganlah sampai tak ikut diklat

5. Bis Sekolah
Ikut diklat itu seru…….itu seru
Jangan sampai tidak
Disana dapat materi…….materi
Yang bermanfaat
Kita harus tetap smangat jangan menyerah
Pulang sore tak masalah jangan hiraukan
Jengjengjengjeng

6. Wavin your flag
Ooooooooooooooo oooooooooooooosis 2x
Kami peserta diklat osis
Angkatan 43
Bersiap tuk tugas baru
Buat proker ini itu
Bersama osis
Semakin akrab semakin kompak
Semakin berkarya
Semangat diklat 3x

7. Gila gilaan
Gila2an bersama teman2
Gila2an di APSI ini
Gla2an sambil nyanyi2
Gila2an sampai gila beneran
Gila2an gila2an gila2an gila2aaaaaaaaaaaaaaan
Gila2an bersama anak diklat
Gila2an tidak henti-henti
Gila2an sambil nyanyi2
Gila2an samapai gila beneran
Gila2an gila2an gila2an gila2aaaaaaaaaaan
Yeeeeeeeaaaaah

8. Bendera
Walau kita baru bersama 2 minggu
Tapi slalu kita coba untuk bersatu
Walau banyak beda antara kau dan aku
Kita leburkan jadikan 1 berpadu
Kupertahankan kau demi 14 jaya
Kupertahankan kau demi pengabdian
Semua senior osis kami
Empat tiga kita slalu bersatu
Berjanji setulus hati
Wujudkan misi sekolah
Empat tiga kan slalu dihatiku
Kau dan aku itu Satu
Jangan ada kata ragu
43 kita slalu bersatu…
Kukan slalu menjagamu……

uwidiiiii! rasanya pengen di ulang lagi deeeeeh :D seruuuuu banget! ga nyangka bakal seheboh itu. Give thanks to Allah for that day :)

vendredi 6 novembre 2009

Berhati-hatilah dengan waktu Luang

“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling.” (Al-Hajj: 1)Maha Kuasa Allah yang menciptakan arena bumi sebagai sarana ujian. Kekayaan alam yang begitu melimpah. Sungai-sungai jernih yang melahirkan kehidupan. Hujan yang membangkitkan harapan. Dari situlah, hamba-hamba Allah membuktikan diri: apakah ia sebagai hamba yang konsisten atau dusta.

Ada baiknya berhati-hati dengan yang boleh. Tak ada yang tanpa batas di dunia ini. Karena sunnatullah dalam alam, semua tercipta dalam takaran tertentu. Dari takaran itulah, keseimbangan bisa langgeng. Termasuk keseimbangan dalam diri manusia.

Kalau keseimbangan goyah, yang muncul adalah kerusakan. Dalam diri manusia, ada tiga keseimbangan yang mesti terjaga: keseimbangan akal, rohani, dan fisik. Satu keseimbangan terganggu, seluruh fisik mengalami kerusakan.

Ketidakseimbangan bukan cuma dari sudut kekurangan. Berlebih-lebihan pun bisa memunculkan ketidakseimbangan. Termasuk dalam pemenuhan kebutuhan fisik dan psikis. Di antara urusan fisik adalah makan dan minum.

Allah swt. berfirman, “….makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raf: 31)

Berlebih-lebihan dalam makan dan minum, walaupun halal, bisa memunculkan penyakit. Lebih dari lima puluh persen sumber penyakit berasal dari lambung. Karena itulah, Rasulullah saw. meminta kaum muslimin untuk mengerem makan. Dan cara yang paling bagus adalah dengan puasa. Beliau saw. mengatakan, “Berpuasalah, niscaya kamu akan sehat.” (Al-hadits)

Masih banyak hal boleh lain yang mesti pas dengan takaran. Di antaranya, hubungan seksual suami istri, tidur, dan juga bersantai.

Sayangnya, ada kecenderungan manusia senang bersantai. Sudah menjadi sifat dasar manusia memilih jalan yang gampang daripada yang sukar. Lebih memilih santai ketimbang banyak kerja. “Maka tidakkah sebaiknya ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.” (Al-Balad: 11)

Santai pada timbangan yang proporsional memang bagus. Karena itu bermakna istirahat. Dari istirahatlah keseimbangan baru bisa lahir. Dengan istirahat, lelah bisa tergantikan dengan kesegaran baru.

Tapi, ketika santai tidak lagi proporsional, yang muncul hura-hura dan kemalasan. Orang menjadi begitu hedonis. Orientasi bergeser dari keimanan kepada serba kesenangan. Saat itu, santai tidak cuma menggusur jenuh, tapi juga kewajiban-kewajiban. Bisa kewajiban sebagai suami, anak, dan juga sebagai hamba Allah swt.

Di antara ciri orang beriman adalah berhati-hati dengan perbuatan yang sia-sia. Allah swt. berfirman, “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (Al-Mu’minun: 1-3)

Rasulullah saw. mewanti-wanti para sahabat agar berhati-hati dengan waktu senggang. Beliau saw. bersabda, “Ada dua kenikmatan yang membuat banyak orang terpedaya yakni nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR. Bukhari)

Ada banyak cara menggusur letih dan jenuh. Letih dan jenuh kadang tidak cuma bisa disegarkan dengan santai. Ada banyak cara agar penyegaran bisa lebih bermakna dan sekaligus terjaga dari lalai.

Para sahabat Rasul biasa mengisi waktu kosong dengan tilawah, zikir, dan shalat sunnah. Itulah yang biasa mereka lakukan ketika suntuk saat jaga malam. Bergantian, mereka menunaikan shalat malam.

Bentuk lainnya adalah bermain dengan istri dan anak-anak. Rasulullah saw. pernah lomba lari dengan Aisyah r.a. Kerap juga bermain ‘kuda-kudaan’ bersama dua cucu beliau, Hasan dan Husein. Dari sini, santai bukan sekadar menghilangkan jenuh. Tapi juga membangun keharmonisan keluarga.

Rasulullah saw. mengatakan, “Orang yang cerdik ialah yang dapat menaklukkan nafsunya dan beramal untuk bekal sesudah wafat. Orang yang lemah ialah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan muluk terhadap Allah.” (HR. Abu Daud)

Dan harus kita sadari betul, ada pihak lain yang mengintai kelengahan kita. Pertarungan antara hak dan batil tidak kenal istilah damai. Tetap dan terus berlangsung hingga hari kiamat. Dari situlah, saling mengintai dan saling mengalahkan menjadi hal lumrah. Dan kewaspadaan menjadi hal yang tidak boleh dianggap ringan.

Pihak yang jelas-jelas melakukan pengintaian adalah musuh abadi manusia. Dialah iblis dan para sekutunya. Allah swt. membocorkan itu dalam firman-Nya. “Iblis mengatakan, ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al-A’raf: 16-17)

Pihak lain adalah kelompok manusia yang tidak suka dengan perkembangan Islam. Mereka selalu mengintai kelemahan umat Islam, mengisi rumah-rumah umat Islam dengan hiburan yang melalaikan. Bahkan, mengkufurkan. Masih banyak upaya lain orang kafir untuk menghancurkan Islam.

Karena itu, berhati-hatilah dengan waktu luang. Kalau tidak bisa diisi dengan yang produktif, setidaknya, isilah dengan yang tidak melalaikan.

Oleh: Mochamad Bugi

dimanche 18 octobre 2009

Aku Mendengar Kalian

Perkenalkan!
Namaku Bilal. Ayahku bernama Rabah, seorang budak dari Abesinia, oleh karena itu nama panjangku Bilal Bin Rabah.
Aku tidak tahu mengapakah Ayah dan Ibuku sampai di sini, Makkah. Sebuah tempat yang hanya memiliki benderang matahari, hamparan sahara dan sedikit pepohonan. Aku seorang budak yang menjadi milik tuannya. Umayyah, biasa tuan saya itu dipanggil.
Seorang bangsawan Quraisy, yang hanya peduli pada harta dan kefanaan. Setiap jeda, aku harus bersiap kapan saja dilontarkan
perintah. Jika tidak, ada cambuk yang menanti akan mendera bagian tubuh manapun yang disukainya.

Setiap waktu adalah sama, semua hari juga serupa tak ada bedanya, yakni melayani majikan dengan sempurna. Hingga suatu hari aku mendengar seseorang menyebutkan Muhammad. Tadinya aku tak peduli, namun kabar yang ku dengar membuatku selalu memasang telinga baik-baik. Muhammad, mengajarkan agama baru yaitu menyembah Tuhan yang maha tunggal. Tidak ada tuhan yang lain. Aku tertarik dan akhirnya, aku bersyahadat diam-diam.

Namun, pada suatu hari majikanku mengetahuinya. Aku sudah tahu kelanjutannya. Mereka memacangku di atas pasir sahara yang membara. Matahari begitu terik, seakan belum cukup, sebuah batu besar menidih dada ini. Mereka mengira aku akan segera menyerah. Haus seketika berkungjung, ingin sekali minum. Aku memnitanya pada salah seorang dari mereka, dan mereka membalasnya dengan lecutan cemeti berkali-kali. Setiap mereka memintaku mengingkari Muhammad, aku hanya berucap “Ahad… ahad”. Batu diatas dada mengurangi kemampuanku berbicara sempurna. Hingga suatu saat, seseorang menolongku, Abu Bakar menebusku dengan uang sebesar yang Umayyah minta. Aku pingsan, tak lagi tahu apa yang terjadi.

Segera setelah sadar, aku dipapah Abu Bakar menuju sebuah tempat tinggal Nabi Muhammad. Kakiku sakit tak terperi, badanku hamper tak bias tegak. Ingin sekali rubuh, namun abu bakar terus membimbingku dengan saying. Tentu saja aku tak ingin mengecewakannya. Aku harus terus melangkah menjumpai seseorang yang kemudian ku cinta sampai nafas terakhir terhembus dari rada. Aku tiba di depan rumahnya. Ada dua sosok disana. Yang pertama adalah Ali Bin Abi Thalib sepupunya yang masih sangat muda dan yang di sampingnya adalah dia, Muhammad.
Dia bangkit, dan menyosongku dengan kegembiraan yang Nampak sempurna. Bahkan hamper tidak ku percaya ada genangan air mata di pelupuk pandangannya. Ali, saat itu bertanya “Apakah orang ini menjahati engkau, hingga engkau menangis.” “Tidak, orang ini bukan penjahat, dia adalah seorang yang telah membuat langit bersuka cita”, demikian Muhammad menjawab. Dengan kedua tangannya, aku direngkuhnya, dipeluk dan di dekapnya, lama. Aku tidak tahu harus berbuat apa, yang pasti saat itu aku merasa terbang melayang ringan menjauhi bumi. Belum pernah aku diperlakukan demikian istimewa.

Muhammad, aku memandangnya lekat, tak ingin mata ini berpaling. Ku terpesona, jatuh cinta, dan merasakan nafas yang tertahan dipangkal tenggorokan. Wajahnya melebihi rembulan yang menggantung di angkasa pada malam-malam yang sering ku pandangi saat istirahat menjelang. Matanya jelita menatapku hangat. Badannya tidak terlalu tinggi tidak juga terlalu pendek. Dia adalah seorang yang jika menoleh maka seluruh badannya juga. Dia menyenyumiku, dan aku semakin mematung, rasakan sebuah aliran sejuk sambangi semua pori-pori yang baru saja dijilati cemeti.
Selanjutnya aku dijamu begitu ramah oleh semua penghuni rumah. Ku duduk di sebelah Muhammad, dank arena demikian dekat, ku mampu menghirup wewangi yang harumnya melebihi aroma kesturi dari tegap raganya. Dan ketika tangan Nabi menyentuh tangan ini begitu mesra, aku merasakan semua derita yang mendera sebelum ini seketika terkubur di kedalaman sahara. Sejak saat itu, aku menjadi sahabat Muhammad.

Kau tidak akan pernah tahu, betapa aku sangat beruntung menjadi salah seorang sahabatnya. Itu ku syukuri setiap detik yang menari tak henti. Aku Bilal, yang kini telah merdeka, tak perlu lagi harus berdiri sedangkan tuannya duduk, karena aku sudah berada di sebuah keakraban yang mempesona. Aku, Bilal budak hitam yang terbebas, mereguk setiap waktu dengan limpahan kasih saying Al-Mushtafa. Tak aka nada yang ku inginkan selain hal ini.

Oh iya, aku ingin mengisahkan sebuah pengalaman yang paling membuatku berharga dan mulia. Inginkah kalian mendengarnya?

Di Yathrib, mesjid, tempat kami, umat Rasulullah beribadah telah berdiri. Bangunan ini dibangun dengan bahan-bahan sederhana. Sepanjang hari, kami semua bekerja keras membangunnya dengan cinta, hingga kami tidak pernah merasakan lelah. Nabi memuji hasil kerja kami, senyumannya selalu mengembang menjumpai kami. Ia begitu bahagia, hingga selalu menepuk setiak pundak kami sebagai tanda bahwa ia begitu berterima kasih. Tentu saja kami melambung.

Kami semua berkumpul, meski mesjid telah selesai dibangung, namun terasa masih ada yang kurang. Ali mengatakan bahwa mesjid membutuhkan pernyeru agar semua muslim dapat mengetahui waktu shalat telah menjelang. Dalam beberapa saat kami terdiam dan berpandangan. Kemudian beberapa sahabat membicarakan cara terbaik untuk memanggil orang-orang

“Kita dapat menarik bendera” seseorang memberikan pilihan.
“Bendera tidak menghasilkan suara, tidak bias memanggil mereka”
“Bagaimana jika sebuah genta?”
“Bukankah itu kebiasaan orang Nasrani”
“JIka terompet tanduk?”
“Itu yang digunakan orang Yahudi, bukan?”

Semua yang hadir disana kembali terdiam, tak ada yang merasa puas dengan pilihan-pilihan yang dibicarakan. Ku lihat Nabi termenung, tak pernah ku saksikan beliau begitu muram. Biasanya wajah itu sepertui matahari di setiap waktu, bersina terang. Sampai suatu ketika Abdullah Bin Zaid dari kaum Anshar, mendekati Nabi dengan malu-malu. Aku bergeser memberikan kepadanya, karena ku tahu ia ingin menyampaikan sesuatu kepada Nabi secara langsung.

“Wahai, utusan Allah” suaranya perlahan terdengar. Mesjid hening, semua mata beralih pada suatu titik. Kami memberikan kepadangnya kesempatan untuk berbicara.

“Aku bermimpi, dalam mimpi itu ku dengar suara manusia memanggil kami untuk berdoa…” lanjutnya pasti. Dan saat itu, mendung wajah Rasulullah perlahan memudar berganti wajah manis berseri-seri. “Mimpimu berasal dai Allah, kita seru manusia untuk mendirikan shalat dengan suara manusia juga…”. Begitu nabi bertutur. Kami semua sepakat, tapi kemudain kami bertanya-tanya, suara manusia seperti apa, lelakika?, anak-anak?, suara lembut?, keras? Atau melengking? Aku juga sibuk memikirkannya. Sampai kurasakan sesuatu diatas bahuku, ada tangan Al-Musthafa di sana. “Suara mu Bilal” ucap Nabi pasti. Nafasku seperti terhenti.

Kau tidak pernah tahu, saat itu aku langsung ingin beranjak menghindarinya, apalagi semua wajah-wajah teduh di dalam mesjid memandangku sepenuh cinta. “Subhanallah, saudaraku, betapa bangganya kau mempunya sesuatu untuk kau persembahkan kepada Islam” ku dengar suara Zaid dari belakang. Aku semakin tertunduk dan merasakan sesuatu bergemuruh di dalam dada. “Suaramu paling bagus duhai hamba Allah, gunakanlah” perintah nabi kembali terdengar. Pujian itu terdengar tulus. Dan dengan memberanikan diri, ku angkat wajah ini menatap Nabi. Allah, ada senyuman rembulan untukku. Aku mengangguk.

Akhirnya, akmi semua keluar dari mesjid. Nabi berjalan paling depan, dan bagai anak kecil aku mengikutinya. “Naiklah ke sana, dan panggilah mereka di ketinggian itu” Nabi mengarahkan telunjuknya ke sebuah atap rumah kepunyaan wanita dari Banu’n Najjar, dekat mesjid. Dengan semangat, ku naiki atap itu, namun sayang kepalaku harus kosong, aku tidak tahu panggilan seperti apa yang harus ku kumandangkan. Aku terdiam lama.
Dibawah, ku lihat wajah-wajah menengadah. Wajah-wajah yang memberiku semangat, meneluspkan banyak harapan. Mereka memandangku, mengharapkan sesuatu keluar dari bibir ini. Berada di ketinggian sering memusingkan kepala, dan aku lihat wajah-wajah itu tak mengharapkan ku jatuh. Lalu ku cari sosok Nabi, ada Abu Bakar dan Umar disampingnya. “Ya Rasul Allah, apa yang harus ku ucapkan?“ Aku memohon petunjuknya. Dan ku dengar suaranya yang bening membumbung sampai di telinga “Pujilah Allah, ikrarkan Utusan-Nya, Serulah manusia untuk shalat”. Aku berpaling dan memikirkannya. Aku memohon kepada Allah untuk membimbing ucapanku.

Kemudian, ku pandangi langit megah tak berpenyangga. Lalu di kedalaman suaraku, aku berseru:

Allah Maha Besar. Allah Maha Besar
Aku bersaksi tiada Tuhan Selain Allah
Aku bersaksi bahwa Muhammad Utusan Allah
Marilah Shalat
Marilah Menggapai Kemenangan
Allah Maha Besar. Allah Maha Besar
Tiada Tuhan Selain Allah.

Ku sudahi lantunan. Aku memandangi Nabi, dank au akan melihat saat itu Purnama Madinah itu di tengah memandangku bahagia. Ku turuni menara, dan aku disongsong begitu banyak manusia yang berebut memelukku. Dan ketika Nabi berada di hadapan ku, ia berkata “Kau Bilal, telah melengkapi Mesjidku”

Aku Bilal, anak seorang budak berkulit hitam, telah dipercaya menjadi muadzin pertama, oleh Dia, Muhammad, yang telah mengenyahkan begitu banyak penderitaan dari kehidupan yang ku tapaki. Engkau tidak akan pernah tahu, mrngajak manusia untuk shalat adalah pekerjaan yang dihargai Nabi begitu tinggi. Aku bersyukur kepada Allah, telah mengaruniaku suara yang indah. Selanjutnya jika tiba waktu shalat, maka suaraku akan memenuhi udara-udara Madinah dan Makkah.

Hingga suatu saat,

Manusia yang paling ku cinta itu dijemput Allah dengan kematian terindahnya. Purnama Madinah tidak akan lagi hadir mengimami kami. Sang penerang telah kembali. Tahukah kau, betapa berat ini ku tanggung sendirian. Aku seperti terperosok ke sebuah sumur yang dalam. Aku menangis pedih, namun aku tahu sampai darah yang keluar dari mata ini, Nabi tak akan pernah kembali.

Di pangkuan Aisyah, Nabi memanggil ‘ummatii… ummatiii’ sebelum nafas terakhir nabi memohon maaf kepada para sahabatnya, mengingatkan kami untuk senantiasa mencintai kalam Ilahi. Kekasih Allah itu juga mengharapkan kami untuk senantiasa mendirikan shalat. Jika ku kenang lagi, aku semakin ingin menangis. Aku merindukannya, sungguh, betapa menyakitkan ketika senggang yang kupunya pun aku tak dapat lagi mendatanginya. Sejak kematian nabi, aku sudah tak mampu lagi berseru, kedukaan yang amat membuatku lemah. Pada kalimat pertama lantunan adza, aku masih mampu menahan diri, tetapi ketika sampai pada kalimat Muhammad, aku tak sanggup melafalkannya dengan sempurna. Adzanku hanya berisi isak tangis belaka. Aku tak sanggup melafalkan seluruh namanya, ‘Muhammad’. Jangan kau salahkan aku. Aku sudah berusaha, namun, adzanku bukan lagi seruan. Aku hanya menangis di ketinggian, mengenang manusia pilihan yang menyayangiku pertama kali. Dan akhirnya para sahabat memahami kesedihan ini. Mereka tak lagi memintaku untuk berseru.

Sekarang, ingin sekali ku memanggil kalian…
Memanggil kalian dengan cinta. Jika kalian ingin mendengarkan panggilanku, dengarkan aku, aka nada manusia-manusia pilihan lainnya yang mengumandangkan adzan. Saat itu, anggaplah aku yang memanggil kalian. Karena, sesungguhnya aku sungguh merindui kalian yang bersegera mendirikan shalat.

Alhamdulillah kisahku telah sampai, kusampaikan salam untuk kalian. Wassalamua’alaikum


Sahabat, jika adzan bergema, kita tahu yang seharusnya dilakukan. Ada bilali yang memanggil. Tidakkah, kita tersanjung dipanggil Bilal. Bersegeralah menjumpai Allah, hadirkan hatimu dalam shalatmu, dan Allah akan menatapmu bahagia. Saya jadi teringat sebuat kata mutiara yang dituliskan sahabat saya pada buku kenangan ketika SD “Husnul, Shalatlah sebelum kamu di shalatkan”. Sebuah kalimat yang sarat makna jika direnungkan dalam-dalam.

vendredi 16 octobre 2009

Best Friends

Two girls were best of friends, since their childhood. When they were small kids, they used to go to school together, play together and sometimes even stay at each other's places. They were next door neighbors and thus their parents were friends as well. The best friends graduated from school and went to pursue higher studies in the same college. Everyone knew that the girls were the best of friends. Nothing was hidden between the duo, because both knew each other inside out.

After some days, one of the friends found the other behaving in a very strange manner. She would remain withdrawn, sleep too much and turn violent, very often. At first, the other friend thought it was just the studies getting on to her. However, with time, she became even more moody and frustrated. Finally, her friend couldn't take it any longer and confronted her with the problem. She broke down into tears and confessed that she was going around with a guy, who was taking drugs and forced her to take them too.

The girl was not only forced to take drugs, but was also forced to bring money every now and then and was threatened with dire consequences, if she revealed the matter to anyone, even her best friend. Shocked by her story, the other friend consoled her. She then thought of a way to help her. Finally, she thought that she would come up straight to the point and tell her to leave this guy and get out of all the mess. She contacted the college counselor, who was a psychologist and narrated all the problem to her. She offered to help and said that matter would be kept under wraps.

The girl was then advised by her friend to leave this guy, as he was torturing her unnecessarily. Her friend reminded her of her dreams of becoming a successful professional, inspired her to set an example for others and reminded of what her parents would feel, if they found out what their daughter was up to. After a lot of persuasion, the girl finally agreed to leave him. She was given basic counseling and was weaned off drugs, with time. All this while, her friend never left her side and always stood by her.

Finally, they graduated and the friendship only grew stronger. They both went on to become successful professionals, but never let each other down by indulging themselves into bad habits. They lived happily ever after, as close friends. The story leaves the reader to think about the depth of friendship shared by the two girls. The moral of the story is that true friends are those, who inspire you to become the best you can ever be. They have full confidence in you. They would not leave you until your goal is accomplished.

(from: best friend)